Seperti mataku, mulutku terbelalak. Seperti mulutku, mataku ternganga. Menjelajah. Menangkap-nangkap. Bundar mata itu, merah bibir itu, baris alis itu, rona pipi itu. Entah milik siapa. Aku tak mengenal namanya, apalagi jati dirinya. Desir anginlah yang bergembira, dapat mengurai pendar kilau rambutnya, bisa menyingkap helai kain di betisnya, bisa menyelinap di sela-sela antara dagu dan sembulan montok di dadanya. Bertiup dan bertiup lagi. Begitu pula cahaya emas dari ufuk barat yang terkoyak ranting pohon angsana. Dapat mengelus kulitnya, singgah di kedalaman telaga bening mripatnya. Terpantul ke belalak mataku.
Ada yang tak mau kalah. Lempengan batu cadas itu memangku tubuhnya yang terbungkus kain pelekat yang melekat dari betis hingga ke dada, menyekat sela-sela ketiaknya. Entah sejak kapan. Air yang mengalir di bawah batu itu pasti bisa menceritakannya, selain berkisah tentang kelembutan kulit kaki hingga separuh betis yang digenanginya.
Adakah dia mengenalku? Mengapa dia membiarkan begitu saja kelopak mataku mengulum ranum wajahnya? Bertubi-tubi. Membiarkan aku terpatung di depannya, membiarkan tumbukan mataku mamahat sekujur tubuhnya.
“Oh nona, siapakah engkau?”
“Kepada siapakah engkau hendak memajang keindahanmu di tepi kali kecil yang damai ini?”
“Adakah engkau tahu tangkai pohon-pohon yang berjajar memagari sungai ini berjuntai berjuluran berebutan tuk menyaksikan keelokanmu?”
Adakah engkau tahu semburat lembayung di atas rambutmu itu enggan terusir malam karenamu?”
“Ataukah tatapan kerikil-kerikil yang menikari sungai itu yang membuatmu betah mematung di atas batu?”
Wajah jelita itu hanya tersenyum. Menggali lesung di pipinya. Aku pun puas. Aku kian mendekat. Mendongak. Tarikan bibirnya lebih indah dari sederet kata mutiara. Lesung di pipinya lebih elok dari untaian kata asmara. Aku menjelajahi peta di wajahnya. Ketemukan mata air-mata air di permukaan dahinya. Ada yang seperti kristal. Ada yang mengalir bening sebelum terserap barisan bulu hitam di atas matanya. Oh, dia kecapaian. Ada setumpuk kain basah dalam keranjang bambu di sampingnya. Ujung-ujungnya terjulur bagaikan lidah ular piton. Dia pasti hanya seorang gadis dusun yang tidak menghuni rumah yang dijalari pipa air ledeng.
Hai nona jelita, adakah suasana lain yang terekam dalam benakmu selain desa?”
Pernahkah engkau mendengar kebisingan yang tak serupa dengan kokok ayam, lolong srigala, dengkus lembu, ringkik kuda, dan pekik rajawali?”
“Tahukah engkau tentang otak srigala berbentuk makhluk-makhluk sebangsamu yang melahirkan desing nyaring diantara jejalan hiruk pikuk belantara kota.”
“Bisakah engkau berkisah selain tentang gemirincing air, krik-krik serangga malam, dengut angsa, kicau unggas, gemeretup kayu bakar, bentakan halilintar, derit bambu, dan kesiur bayu?”
“Kalau engkau pernah mendengarnya, lantas mengapa engkau memasung diri di dalam rerumpunan desa.”
Jelita itu hanya tersenyum. Lebih indah dari seribu kisah. Lebih bermakna dari seribu kata. Senyumnya adalah nuansa makna. Tentang kesahayaan bunga desa yang tak sadar arti keelokannya di tengah peradaban manusia. Peradaban yang menyuguhkan pundi-pundi kenikmatan. Peradaban yang memanjakan kehidupan. Peradaban yang melumat kebersahayaan, menyemburkan keserakahan, mengepulkan keangkuhan, dan memuntahkan kesombongan.
Gadis jelita itu pasti tak bisa berceramah, berkisah, atau memaki semua itu. Akulah yang bisa, tapi aku tidak mau. Agar otaknya tetap tergolek seperti boneka Barbie yang tak pernah tahu artinya cermin, apalagi kosmetika. Cukuplah kekagumannya kepada keindahan bunga mawar, keharuman melati, dan kemerduan kokok ayam jantan menjelang semburat fajar, bukan kristal Cekoslvakia, bukan parfum Paris, dan bukan pula musik orkestra.
Dia masih tersenyum, walau tak mengenalku. Mungkin karena aku juga selalu tersenyum. Dia tidak mungkin dapat menyadap kasak-kusuk jiwa orang kota sepertiku. Tapi aku tak akan berniat buruk. Aku hanya terpesona pada keindahan. Aku ingin berbuat sesuatu yang indah untuk setiap estetika. Ingin kuraih tangannya untuk kuselipkan jari-jariku di sela-sela lentiknya jemarinya yang basah. Maka kujejakkan dua langkahku ke depan. Tepat di depannya. Maka semakin kutangkap nuansa keindahan di wajahnya. Kali ini aku tak ingin meraih tangannya. Karena sebelum itu aku ingin mengusap butir-butir kristal di dahinya, membelai hitam rambutnya, seperti sepoi-sepoi angin yang menemaninya sejak tadi.
Maka kuangkat tanganku.
“Hei!” Tiba-tiba suara setengah nyaring menggedor kendang telingaku, menghentikan perjalanan tanganku di pertengahan gerak, bersamaan dengan lengos wajahku ke arah samping. Oh my God, ada lelaki tegap berpakaian seragam. Membawa pentungan. Mati aku.
“Maaf, jangan disentuh, pak!” Seru lelaki muda itu. Aku lega karena nadanya tidak kasar.
Aku termangu sejenak sambil menyalakan rokok lalu meninggalkan satpam penjaga galeri lukisan itu.

April 5, 2007 pukul 2:00 am
Disensor yaaa…. Teriakan kedua si penjaga kok ga dilaporkan?
Harusnya kan dia teriak:
“HEI!!! JANGAN NGEROKOK DISINI!!!”
Di galeri kan gak boleh menyalakan api rokok…
April 5, 2007 pukul 3:37 am
Mmm…itu rupanya maksudnya penipuan itu…
Iya kan ya, biasanya memang ada larangan merokok di tempat seperti itu…
Maunya gini, meninggalkan satpam penjaga Galeri Lukisan itu, keluar dan menyalakan rokok…
hi hi..nyerobot ngedit-ngedit…
@ wadehel

Tambah yakin, bahwa Wadehel “serius”.
April 5, 2007 pukul 6:11 am
emmmm… sampai nggak bisa komen
April 5, 2007 pukul 6:48 am
Just touch with your eyes, jangan dipegang pakai tangan. Tangan anda bisa bikin luntur lukiran indah itu. wakakakaka.
Tks sdh berkunjung ke blogku. Salam kenal.
April 6, 2007 pukul 8:32 am
hohoho kirain daging sedaging2nya, ternyata cuma lukisan…
April 6, 2007 pukul 1:20 pm
@Wadehel– ha ha ha.. wadehel kena tipu juga lah wong pamerannya di lapangan bola kok.
@jejak pena– ngak papa di edit, biar tambah ciamik.met kenal jeka pena
@peyek—– padahal minta ditambahin agi sama peyek… hehheh
@julaiach—– iya itulah takut tangan saya yang luntur heheheheh.
@Khaidar—— daging apaan yik……
April 7, 2007 pukul 1:57 am
kadang kalau nonton lukisan memang sangat indah membuat saya ga mampu berkata kok ada orang yang bisa nggambar sebagus itu yaaa…. memang Allah itu adil setiap orang di beri kemampuan…
April 9, 2007 pukul 10:30 pm
Kalau hanya lukisan manusia saja kita bisa terkesima, lalu bagaimana kalau kita lihat lukisanya Allah swt…??. kita hanya bisa berucap, Subhanallah……
Agustus 10, 2007 pukul 3:38 am
lha lama gak nulis?
Agustus 12, 2007 pukul 11:01 am
Iya lagi ada ujian neh…..
Agustus 21, 2007 pukul 4:00 am
salam….
sekedar informasi, saya telah membuat blog media anak muslim degan alamat http://bumgembul.blogspot.com mohon masukan dan komentarnya. Dan utamanya bisa mempromosikan kepada saudara, keluarga, teman, dan kenalan antum.
Semoga bermanfaat bagi putra/i kita dalam persiapan membangun umat di masa depan.
terimakasih.
Agustus 21, 2007 pukul 5:33 am
hehehe.. seru juga tapi kenapa ke onggoh daging hanya terlihat di luar tanpa melihat ke dalam alis kenapa porno aja ya yang terbahas dan sentuhan artistik yang di ambil. tapi komen gw .. goood bgt deh
Oktober 10, 2007 pukul 7:25 pm
tapi rasanya cerita di atas mirip dengan blogger yang pernah ku kenal…. tapi kok namanya beda??? apakah this is the side blog sir…
makasih dah, koment di bloggku, semua tip and trik dan kerelaan membagi ilmu luar biasa saya hargai… itu semua buat pembelajaran bagi kami..
Januari 16, 2008 pukul 5:06 am
bikin suspen jerk…
Januari 21, 2008 pukul 2:43 pm
Salam. Terima kasih kerana singgah di http://pantunonline.com. Laman tuan hebat benar. Saya suka bahasanya.
Wassalam
Februari 1, 2008 pukul 2:32 pm
Makasih saudara telah kunjng ke blog yang nggak pernah kami update lagi.
tunggu masanya.