Ribuan burung gagak menyalak menutup awan
Tandai kehidupan telah menjadi keranda
Mayat-mayat hidup bergentayangan
Mencari mangsa dan menjadi mangsa
Modernitas adalah liat lahatnya
Sains dan teknologi adalah kerandanya
Di tengah belantara onak ‘kebudayaan massa ‘
Sejak paruh kedua milennium sejarah manusia
Ketika ia mulai menfirman sucikan matematika
Menongkatkan panca indera
Merambukan garis, rumus, dan angka-angka
Menggeleparkan ruhnya ke dalam botol-botol kaca
Kemudian menuhankan onggokan tubuhnya
Kemudian mendrakulakan Tuhan-nya
Maka sekaratlah ia
Maka matilah ia
Maka bangkailah ia
Terkoyak gelegar teori evolusi
Tercincang gemuruh industri
Hai…….!
Mengapa tak kau tutup hidungmu
Mengapa tak kau semburkan ludahmu
Sudah bangkaihkah kamu
Bukankah ada bau busuk mengganggu;
Materialisme
Kolonialisme
Kapitalisme
Globalisme
Hedonisme
Konsumerisme
Dan…….
Aduhaisme?
Ribuan burung gagak menyalak
Tandai alam raya telah jadi cermin retak
Sukma terlihat nafsu belaka
Akal terlihat rongsokan tanpa makna
Banyak-sedikit, besar-kecil, untung-rugi
Dirajut sebagai norma insani
Benar-salah, indah-jelek, baik-keji
Digembok dalam peti mati
Maka persaingan adalah niscaya
Yang lemah dikalahkan yang perkasa
Yang kurcaci diinjak yang raksasa
Yang kelinci diisap yang drakula
Dalam keranda….
HIDUP MANUSIA !!!!

Februari 14, 2007 pukul 4:55 pm
karena bukan seniman ya bingunglah aku apa maksudnya….hidup itu = mati atau yng mati=hidup lagi, jadi sebenarnya hidup dan mati itu sebenarnya sama saja ya…??
Februari 16, 2007 pukul 4:13 am
Hmmm… dimaknai sendiri deh.. enaknya apa gitu , lah wong saya sendiri bukan seniman je. puisi ini saya inspirasikan dari artikel panjang berjudul ‘Kematian Manusia: Sebuah Karikatur’ karya guru saya, Musa Kazhim Habsyi, yang dimuat di Jurnal Alhuda, Jakarta.
Oktober 26, 2007 pukul 8:20 am
hahah Aduhaisme… ??? hmm sama juga dengan molokisme, sengitisme, nafsuisme dan ndablegisme hehehe loh kok aku jadi niru² ketularan…
Duuh ada kengerian dari bacaan ini. Orang yang dlaper hidupnya, siap² di terkam srigala dan drakula dalam keranda… mampus dua kali tiga empat lima dst….